Jejak ‘Manusia Beton Bertulang’

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

cover20buku20cakrawala20roosseno20021Judul buku : CAKRAWALA ROOSSENO
Penulis : Eka Budianta
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Tahun : Cetakan I, 2008
Tebal : xviii + 333 halaman
Harga : Rp. 90.000,-

“Insinyur Indonesia tidak kalah pandai dengan insinyur asing. Jangan mudah menyerah dan jangan merasa rendah diri dengan insinyur asing.”

Kutipan pidato tersebut disampaikan Prof. DR (HC) Ir. Raden Roosseno Soerjohadikoesoemo bulan Februari 1973, di Hotel Indonesia, Jakarta, di hadapan para insinyur. Ia tengah menanamkan semangat dan jiwa nasionalisme serta mendorong mereka untuk menjunjung tinggi etika profesi. Roosseno adalah pakar konstruksi, jembatan, gedung bertingkat, beton bertulang, beton pratekan, dan pakar rekayasa. Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan, penelitian, pengembangan, aplikasi praktis sains dan teknologi beton bertulang serta beton pratekan/prategang. Namanya masuk daftar salah satu cendekiawan dunia.

Dalam menghadapi insinyur dan konsultan asing, semboyan harus percaya diri sering diucapkan Apong –panggilan kesayangan Roosseno—. Ia menegaskan, kita harus jadi tuan rumah di negara sendiri. Jika diberi kesempatan, tenaga ahli nasional dapat diandalkan menangani proyek-proyek besar, bahkan lebih dari konsultan asing. Apong membuktikan ucapannya. Dunia pun mengenangnya teristimewa karena jasanya merestorasi Candi Borobudur. Organisasi Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengakui, restorasi Borobudur adalah proyek pemugaran monumen Budha paling akbar dalam sejarah planet ini.

Roosseno menjadi ketua tim mega proyek itu sejak 1969. Pengerjaannya memakan waktu sepuluh tahun lebih dengan mengerahkan 700 pekerja. Anggota timnya terdiri dari pakar, ahli pemugaran dan insinyur terkemuka dari lima negara; Jepang, Amerika Serikat, Belgia, Jerman (Barat), dan Indonesia. Hasilnya, restorasi yang dipimpinnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, teknis, kultural, maupun moral. Candi Borobudur kelak mampu bertahan dan tetap tegak seribu tahun lagi. Disinilah ia berhasil mengangkat wibawa Indonesia ke pentas dunia. Sejak itu, namanya langsung meroket, menjadi bahan perbincangan para ilmuwan sejagat.

Hampir semua relasi, murid dan orang-orang yang mengenal berkata, Roosseno memiliki vitalitas luar biasa. Ia penuh semangat dan gembira saat bekerja, selain humor dan canda khasnya yang tidak ketinggalan. Terpenting lagi, ia nyaris tak pernah sakit atau mengonsumsi obat-obatan. Dengan vitalitas luar biasa, kecerdasan dan daya tanggap yang tinggi terhadap zaman, ‘Dewanya Teknik Sipil Indonesia’ ini menjadi bagian istimewa dalam sejarah. Ia mengkonstruksi dan membangun hotel, pelabuhan, jembatan, gedung bertingkat, maupun menara di hamparan bumi nusantara. Hotel Indonesia, Tugu Monas, Masjid Istiqlal, Gedung Bank Indonesia, dan Menara TVRI, beberapa di antara hasil rancangannya.

Pelataran (platform) Monas berukuran 45 meter x 45 meter menjadi saksi bisu kali pertama struktur-struktur beton pratekan kreasi Roosseno terwujud di Indonesia, tahun 1961. Satu lagi yang dikenangnya dengan bangga; Jembatan Rantoberangin di atas Sungai Batanghari, Riau, sepanjang 200 meter, yang dibuat tahun 1973, sebagai jembatan beton pratekan pertama di Indonesia. Selanjutnya, Jembatan Rajamandala di atas Sungai Citarum di Rajamandala, Cianjur, Jawa Barat, sepanjang 222 menter yang paling disukainya. Jembatan hasil otak-atiknya itu merupakan bentangan paling panjang di Indonesia, pada zamannya.

Julukan ‘Manusia Beton Bertulang’, ‘Manusia Kongkrit’, ‘Manusia Seratus Jembatan’, dan ‘Manusia All Round’ diberikan kepada Roosseno. Ia membangun Indonesia dengan caranya sendiri; menumbuhkan gedung, menghamparkan jembatan, dan mendirikan bangunan kokoh lainnya, sebanyak mungkin supaya bisa dinikmati publik dan anak cucunya. Beragam jenis jabatan dan penghargaan tingkat nasional maupun internasional yang diterima tidak membuatnya puas atau merasa hebat. Ia tetap rendah hati dan terus belajar, termasuk kepada para kuli bangunan yang sama sekali tidak mengenal teori konstruksi dan beton bertulang.

Banyak orang yang menyebut pribadi Roosseno sangat menjunjung tinggi keterbukaan, kejujuran dan tidak pelit terhadap ilmu. Ia bersedia membagi semua ilmu dan pengetahuannya kepada siapa saja, tanpa meminta imbalan satu rupiah pun. Cita-cita besarnya ingin membuat anak-anak Indonesia jadi cerdas dan pintar, karena Apong paling kecewa bila menyaksikan kebodohan. Tekadnya sudah bulat; berharap agar semua anak bangsa dapat mengakses pendidikan tinggi yang berkeadilan dan bermutu tinggi, khususnya bidang teknik, dengan tidak menghilangkan nation and character building.

Dibalik prestasi dan kehebatan Roosseno, tersimpan pula cerita kegagalan. Pertama, ambruknya Jembatan Sarinah yang menghubungkan Toserba Sarinah dan Jakarta Theatre, pada 28 Februari 1981. Kedua, tidak berhasilnya gagasan Roosseno meningkatkan daya pikul gelegar komposit baja beton dengan memberikan prakompresi. Ternyata, sistem yang diterapkan pada jembatan di atas Kali Ciliwung di Condet itu tidak bekerja seperti yang diharapkan. Ia juga mengakui salah mengambil keputusan ketika menjabat Menteri Perhubungan. Ia menghapus sistem transportasi trem listrik  akhir 1980, lalu menggantinya dengan bus PPD. Setelah itu, sepanjang hidup, tiap kali melihat bus PPD melintas di jalan raya, batinnya selalu berkata, “Sejujurnya ini kesalahan saya yang tidak mungkin terlupakan.”

Sejak kecil Roosseno bercita-cita menjadi insinyur. Ia membaca buku Tung Yen-Lin, Gauss, Monier, Rudyard Kippling, Archimedes, Albert Einsten, dan Isaac Newton. Pada 1 Juli 1944, saat usianya 35 tahun, ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang diangkat sebagai profesor (kyooju) oleh pemerintah Jepang, di sekolah teknik Bandung Koogyo Daigaku dalam ilmu mekanika, beton dan baja. Dalam perjalanan selanjutnya, ia membuktikan dirinya sebagai ilmuwan, mengerjakan proyek di lapangan, dan sangat gencar memperjuangkan hak-hak kekayaan intelektual. Maka, Roosseno menjadi pionir di kalangan teknopreneur, yaitu pakar teknik yang terjun ke dunia wirausaha.

Ketenaran Roosseno menggaung dimana-mana. ‘Bapak Beton Indonesia’ yang hidupnya serba rasional dan praktis ini mampu bekerja dan menulis sama banyaknya. Karya-karya ilmiahnya menjadi rujukan, buku-bukunya diikuti dan hasil kreasinya dikagumi. Tetapi jarang yang tahu bahwa ia sering hidup pas-pasan. Ia tidak mata duitan dan sangat benci korupsi. Penghasilannya terkenal lebih rendah daripada yang didapat asistennya. Ia pun tidak pernah lebih kaya dari keenam anaknya yang sukses secara finansial. Ketika seorang putrinya sudah bisa membeli mobil Mercedez misalnya, ia masih menyetir sedan plymouth tua atau nangkring di atas sepeda motor Yamaha 650 cc yang selalu membawanya kemana-mana hingga usia 79 tahun.

Bintang Roosseno mulai meredup ketika Raden Ayu Oentari, istrinya, meninggal dunia 15 Juli 1988, hanya dua pekan menjelang pesta ulang tahun Roosseno ke-80. Semangat hidup si Mawar Bimasena itu benar-benar menurun drastis. Ia kehilangan segalanya. Jiwa dan raganya limbung. Setahun setelah Oentari pergi, ia masuk ke sebuah gereja di kawasan Bogor. Rupanya ia tidak tahan hidup sendiri. Di sana ia menikah dengan Henriette Bernadette alias Henny Nangka. Tidak banyak yang mengikuti saat-saat terakhirnya setelah menikah lagi.

Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata, mantan asistennya, menuturkan, sampai akhir hayat, Roosseno tetap tegar, pantang menyerah menghadapi rintangan hidup maupun dalam bidang profesinya. Semuanya dilandasi oleh jiwa pengabdian untuk kemajuan dan kejayaan tanah air dan bangsanya. Dalam usia senja, ia tampak bahagia dan bangga melihat mantan-mantan mahasiswa dan generasi muda pada umumnya yang telah berhasil mengambil alih dengan baik tongkat estafet pengembangan keinsinyuran di Indonesia dari tangannya.

Jejak Roosseno patut diteladani: hidup bersahaja, sederhana, disiplin, pekerja keras, berprestasi serta menikmati rahmat dan karunia Tuhan dengan wujud nyata. ‘Profesor Gratis’ yang wafat di Jakarta, 15 Juni 1996, ini telah mengajari anak cucu dan rekan-rekan sebangsanya untuk tetap berhati lembut, romantis, dan penuh cinta kasih, sekalipun dunia berubah menjadi belantara beton. Penulis buku ini, Eka Budianta, secara cerdas memilih pendekatan sastra yang memungkinkan pembaca mengikuti perjuangan Roosseno, lengkap disertai interaksinya dengan Ibu, Ayah, tokoh-tokoh yang dikagumi, dan orang-orang yang dicintai serta mencintainya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s