Lika-liku Bill Gates Menguasai Industri Teknologi

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

Judul buku: The Bill Gates Way
Penulis: Des Dearlove
Penerbit: Daras Books, Jakarta
Tahun: Cetakan I, Oktober 2008
Tebal: 232 Halaman
Harga: Rp. 49.900,-

Tanpa William Henry Gates III atau lebih dikenal Bill Gates dan Microsoft, rasanya tidak mungkin revolusi teknologi komputer akan sedahsyat sekarang. Melalui  bendera Microsoft yang didirikannya bersama Paul Allen tahun 1974, Gates mengukir sejarah spektakuler dengan mendominasi bisnis teknologi informasi selama lebih dari 25 tahun sampai sekarang. Microsoft berkembang pesat tanpa jeda. Perusahaan kecil dari Seattle yang mulanya dibangun dua orang itu kini menjadi perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 48 ribu karyawan dan menghasilkan nilai penjualan lebih dari 25 miliar dolar AS per tahun. Arus keluar masuk para pegawai perusahaan ini kurang dari delapan persen: sangat rendah untuk ukuran perusahaan teknologi informasi.

Gates pemimpin yang sangat langka. Dia menjadi fenomena bisnis: raja dan cendekiawan teknologi terhebat. Cengkeramannya pada pasar piranti lunak PC membuatnya didaulat sebagai manusia terkaya di bumi. Kisah suksesnya dimulai awal 1980, ketika IBM, perusahaan raksasa pembuat peranti keras komputer, menandatangani kontrak dengan Microsoft untuk mengembangkan sistem operasi komputer pribadi pertama mereka. Saat itu Gates tahu, sebuah sistem operasi akan menghasilkan cetak biru (platform) yang bisa mengubah sejarah komputer pribadi. Dia meyakini jika peranti lunak –bukan peranti keras– yang akan menjadi kunci masa depan. Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan emas ini. Dia membeli sistem operasi bernama Q-DOS dari perusahaan lain, lalu dinamai MS-DOS. Dia bekerja lebih dari enam bulan untuk memastikan bahwa kesempatan itu, ketika datang, akan jatuh ke tangan Microsoft.

Ketika industri komputer pribadi mengalami booming besar, ribuan kompetitor baru masuk pasar. Hampir seluruhnya memakai MS-DOS dan membayar Gates demi itu. Setiap komputer pribadi yang dibuat IBM akan menggunakan MS-DOS yang telah dipasang di dalamnya. Ini tumpangan gratis yang sangat menguntungkan Gates. Microsoft mulai bekerja sama dengan berbagai perusahaan komputer terkemuka lain. Microsoft pun menentukan standar industri. Perusahaan yang menentukan standar industri, kata Gates, hampir dipastikan mendominasi pasar. Strategi inilah yang terus dilakukan dengan MS-DOS: membujuk sebanyak mungkin pabrikan komputer pribadi untuk mengadopsi sistem itu dan mendistribusikannya di komputer mereka.

Kenyataan tersebut melambungkan nama Gates dan Microsoft. Pria kelahiran Seattle, Washington, 28 Oktober 1955, ini lantas merancang ide besarnya tentang ”satu komputer di setiap meja dan setiap rumah”. Di sinilah Gates membidani pergeseran Microsoft dari sekadar pengembang bahasa pemrograman menjadi perusahaan komputer yang terdiversifikasi: memproduksi semua, mulai dari sistem operasi seperti Windows sampai aplikasi program semisal Word dan Excel serta aneka peranti pemrograman. Encarta, ensiklopedia dalam bentuk CD pertama di dunia, termasuk maha karyanya. Dalam proses tersebut, dia mentransformasikan industri komputer.

Secara filosofis, keberhasilan Gates dengan Microsoftnya tidak terlepas pada lima faktor; pendekatan jangka panjang, orientasi pada hasil, kerja sama tim dan dorongan individu, perhatian pada produk dan konsumen serta umpan balik terus menerus dari konsumen. Buku The Bill Gates Way ini secara gamblang mengungkap sepuluh rahasia sukses seorang pengusaha genius yang paling visioner di zaman sekarang.

Pertama, Gates berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Memang mudah menyebut sukses Microsoft terjadi karena keberuntungan mendapatkan kontrak dari IBM. Namun, kemampuan Gates menerjemahkan visi teknis ke dalam strategi pasar dan memadukan kreativitas dengan kecakapan bisnis menjadi sumber utama suksesnya. Dia menegaskan, keberuntungan tidak akan banyak membantu: apa yang Anda lakukan dengan keberuntungan itulah yang berpengaruh. Gates juga mengingatkan, jangan jatuhkan bola yang sudah di tangan. Atas dasar itu, Microsoft memanfaatkan posisi pasar yang dominan untuk mendirikan versinya sendiri dari sejumlah peranti lunak aplikasi.

Kedua, Gates jatuh cinta pada komputer sejak kecil, meski bakat sebenarnya matematika. Pemahaman dan penguasaannya yang mendalam terhadap teknologi membuatnya sanggup mengidentifikasi tren, menemukan strategi sekaligus siap untuk memimpin. Gates mampu memandang arah masa depan teknologi, jauh lebih jelas dari para rivalnya. Di Microsoft, dia juga menciptakan budaya bisnis yang mengakui nilai pentingnya pakar teknologi. Di sana, para pengembang dianggap lebih penting dari para manajer. Selain itu, Gates mau menginvestasi dananya lebih banyak dari orang lain bagi kepentingan riset dan mengembangkan berbagai produk untuk lima tahun ke depan.

Ketiga, Gates adalah kompetitor sengit. Dalam segala sesuatu, dia selalu ingin menang. Sebagai pembuat keputusan, ini menjadikannya negosiator yang sangat merepotkan, ahli strategi dan pakar menghancurkan para kompetitor. Namun, dia tidak mengizinkan dendam pribadi memengaruhi keputusan komersialnya. Beberapa kali pria yang amarahnya sering meluap-luap itu terlihat berdamai dengan musuhnya, semata-mata demi kepentingannya. Dia selalu memikirkan beberapa langkah ke depan dan akan menghukum kesalahan langkah lawannya tanpa rasa iba bak predator berdarah dingin. Itulah yang membuat banyak orang di industri komputer jeri kepadanya.

Keempat, Gates mempekerjakan orang-orang yang amat cerdas. Sejak awal, Gates merekrut banyak siswa brilian langsung dari universitas untuk bekerja di markas besar Microsoft di Redmond, Washington, yang mereka sebut The Microsoft Campus. Dia  memberikan berbagai tantangan dan menekankan para karyawannya untuk bekerja lebih keras dari orang lain. Dia juga membuat mereka merasa lebih terlibat dengan tujuan perusahaan. Anehnya, Microsoft menggaji mereka lebih rendah dari perusahaan saingan. Namun, Microsoft menawarkan opsi kepada mereka untuk membeli saham Microsoft. Inilah bukti ketidakrakusan Gates. Melalui strategi itu, Gates berhasil menemukan penghubung sempurna antara kinerja dan kompensasi. Banyak karyawan berusia 20 dan 30-an yang terus bekerja di Microsoft meski sudah menjadi miliuner.

Kelima, Gates menciptakan mesin belajar yang sangat buas bernama Microsoft demi bertahan hidup Dengan cara itu, dia percaya, kesalahan yang sama tidak terulang kembali, sementara para kompetitornya tak sehati-hati ini. Mahasiswa droup out dari Fakultas Hukum Universitas Harvard ini pandai memanfaatkan kesalahan orang lain untuk kemakmuran perusahaannya. Di lingkungan Microsoft, Gates terus menunjukkan diri sebagai sosok yang mampu mengerjakan peranti lunak dengan baik. Selain itu, dia menegakkan sistem ketika setiap karyawan bisa memberikan umpan balik kepada para koleganya. Dia sangat peduli dengan apa yang dia sebut sebagai feedback loops.

Keenam, Gates tidak mengharapkan terima kasih. Jika ada satu pelajaran pahit yang Gates dapatkan adalah ketenaran dan keburukan tidak pernah berjauhan. Menurutnya, Anda tidak bisa menjadi orang terkaya di dunia tanpa punya banyak musuh.  Gates tidak membiarkan kecemburuan membutakan dirinya. Dengan segala pesonanya, dia justru menggunakan perhatian media untuk memasarkan produk-produknya demi menangguk keuntungan. Di berbagai negara, setiap kali berkunjung, Gates diperlakukan bak seorang kepala negara. Hal ini semakin memberinya jalur bebas hambatan menapaki koridor kekuasaan.

Ketujuh, Gates mengambil posisi visioner. Selama bertahun-tahun, dia berulang kali menunjukkan bahwa dirinya sosok terdekat sebagai peramal agung industri komputer. Ketika dia meramalkan masa depan, baik tentang kemungkinan konvergensi teknologi atau penyebaran aplikasi peranti lunak baru, banyak orang dari kalangan atas yang duduk diam dan mendengarkan. Sementara di Microsoft, Gates memandang peran dirinya sebagai visioner perusahaan. Dia mengabaikan berbagai aspek aktivitas bisnis harian yang bertele-tele, karena percaya tugasnya memetakan masa depan.

Kedelapan, Gates menggarap semuanya. Microsoft mampu mengatur berbagai proyek besar dalam waktu bersamaan. Gates yang dikenal hiper aktif tergolong manusia pertama yang sanggup melakukan banyak hal sekaligus (multi tasking) dan digambarkan Manusia Paralel. Kemampuan luar biasa ini tercermin dalam pendekatan perusahaannya. Artinya, Microsoft terus mengeksplorasi pasar dan berbagai aplikasi peranti lunak baru.

Kesembilan, Gates terus membangun unit-unit kecil di Microsoft untuk menjaga iklim kewirausahaan tim. Dia berkesimpulan, peranti lunak terbaik diciptakan kelompok-kelompok kecil pengembang. Terkadang, perubahan bisa berlangsung sangat cepat, sehingga Microsoft menciptakan berbagai divisi baru setiap pekan. Gates menempatkan 200 orang di setiap unit. Sementara untuk mengendalikan perusahaan, Gates menyederhanakan struktur. Dia hanya perlu berhubungan dengan sedikit manajer. Dia juga menekankan bahwa perusahaannya kecil –meski kenyataannya besar- agar para karyawan tidak berpuasa diri dan terus terpacu untuk menciptakan budaya berprestasi.

Kesepuluh, Gates tidak kehilangan fokus. Kekayaan melimpah dan prestasi besar tak membuatnya melambat dalam berkarya. Dia pernah mengatakan, dirinya didorong rasa takut terpendam bahwa akan kehilangan hal dahsyat berikutnya. Pria nerd (maniak ilmu pengetahuan) ini menegaskan, tidak ada artinya menengok ke belakang, karena kompetitor ada tepat di belakang. Bagaimana menciptakan masa depan terus menyeruak dalam pikiran Gates dan anak buahnya untuk menjaga posisi terdepan.

Buku ini mengupas sepak terjang Gates ketika melewati tikungan tajam dalam perjalanan menuju lingkungan elit dunia bisnis, termasuk menghadapi merosotnya pasar komputer pribadi, persaingan baru plus masalah hukum. Salah satu tantangan tersulit yang dihadapi Gates mengikuti perubahan teknologi. Dengan tekanan yang ada lantaran mengelola perusahaan paling berkuasa di dunia dan penyebaran teknologi, Gates selalu berusaha memahami kemajuan sebagai masalah besar. Dia terus mengikuti perkembangan dunia dengan cara membaca The Economist dan jurnal ilmiah lainnya, selain tak henti berpikir serta bekerja 16 jam sehari. Di luar semua itu, Gates mungkin tidak bisa mengimbangi besarnya citra yang dia proyeksikan kepada dunia.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s