Pemberdayaan Pesantren

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Sepanjang Ramadhan, berbagai media massa –utamanya televisi— serentak menayangkan program khusus yang berisi seluk beluk kehidupan pondok pesantren. Satu per satu pesantren yang memiliki ciri khas tertentu dikupas, mulai dari sejarah, kiprah, infrastruktur hingga eksistensinya saat ini. Biasanya, acara semacam ini bertujuan untuk menyemarakan Ramadhan sekaligus meningkatkan syiar Islam.

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya asli Indonesia. Keberadaannya dimulai sejak Islam masuk ke negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Karena itu, kontribusi sosial pesantren sangat besar terhadap sejarah perjalanan bangsa Indonesia dan kemajuan Islam.

Seperti diketahui, mulanya pesantren menjadi pusat penggembelengan ilmu agama dengan menekankan nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri kepada para santri. Sayangnya, seringkali pesantren –terutama di daerah—  terlalu menutup diri terhadap lingkungan sekitarnya. Pengasuh pesantren (kyai) dan para santri seolah asyik dengan dunianya sendiri. Pendek kata, mereka tak mau tahu dengan urusan di luar pesantren.

Beruntung, seiring perkembangan zaman dan desakan berbagai pihak, lambat laun pesantren bersedia berbenah dan membuka akses dengan dunia luar. Kini, banyak pesantren yang konsentrasinya tidak sekadar berkutat pada ilmu agama, tapi juga mengajarkan ilmu umum dan keterampilan tertentu. Di sisi lain, kesadaran dan kepedulian sosialnya mulai dimainkan. Mereka turut pula memposisikan diri sebagai lembaga sosial ekonomi yang terus merespon dan ikut menyelesaikan carut marut persoalan masyarakat.

Di antara problem klasik yang kerap dihadapi masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren ialah terkait aspek ekonomi, yakni kemiskinan dan menumpuknya pengangguran. Sebab, umumnya sebuah pesantren didirikan di tengah lingkungan kaum papa atau kelompok masyarakat yang suka berbuat onar. Pada titik ini, pesantren dituntut maksimal untuk memberdayakan dunianya agar kaum dhuafa juga terberdayakan.

Kita mesti percaya bahwa pesantren mampu melakukan tugas itu. Apalagi kalangan pesantren sudah mengetahui dan paham betul dalil Al-Quran maupun hadis nabi yang menjelaskan konsep kemandirian ekonomi umat, meski mungkin belum pernah diimplementasikan. Hanya saja, barangkali keinginan pengasuh pesantren merasa terbentur karena ketiadaan modal awal untuk melakukan proses pemberdayaan.

Untuk itulah, Dompet Dhuafa (DD) siap membantu mereka. Melalui program sedekah ternak, DD bermaksud mempersembahkan kepada para dhuafa yang aktifitas sehari-harinya sebagian besar mengembangkan pesantren di pelosok negeri Indonesia. Dengan terberdayakannya para pengelola pesantren, diharapkan warga masyarakat di sekitarnya ikut merasakan manfaat berupa pertumbuhan ekonomi yang berbasis pesantren. Pada akhirnya, jika ini berhasil, maka pesantren menjadi pusat pengembangan ilmu agama sekaligus ekonomi masyarakat. (LHZ)

One response to this post.

  1. Posted by mambaulhisan on April 26, 2011 at 11:57 am

    tulisan yang menarik dan inspiratif

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.