Memberdayakan Masjid

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Di Indonesia rasanya tidak terlalu sulit menemukan masjid. Masjid tersebar dari pusat kota hingga pelosok desa. Namun, kerapkali masjid menjadi ramai pada saat tertentu saja. Misal Ramadhan seperti saat ini, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, atau moment lain yang berkaitan perayaan hari besar Islam. Artinya, masjid masih dipahami sebagai tempat ibadah semata. Bahkan tren kekinian memperlihatkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang menganggap masjid tak lebih sebagai kawasan wisata.

Pada masa dahulu, fungsi dan peranan masjid tak sekadar rumah ibadah umat Islam, namun juga pusat kehidupan komunitas muslim. Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat tiba di Madinah dalam rangkaian hijrahnya, maka pertama kali yang dilakukan Rasulullah adalah membangun masjid, yang dikemudian dikenal dengan nama Masjid Nabawi. Rasulullah menjadikan masjid sebagai basis perjuangan kaum muslimin dalam menyebarkan risalah Islam.

Masjid Nabawi yang terletak di pusat Kota Madinah dibangun di sebuah lapangan yang luas. Rasulullah menjadikan masjid dan areanya untuk kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan, aktivitas politik, perencanaan kota, menentukan strategi militer, dan menandatangani perjanjian. Bahkan, di area sekitar masjid digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh orang-orang fakir dan miskin.

Sebagai fungsi keagamaan, masjid dipergunakan untuk menunaikan shalat wajib sehari-hari serta ibadah lainnya. Khusus pada bulan Ramadhan, keberadaan masjid lebih semarak dengan digelarnya berbagai kegiatan rutin. Selain itu, masjid menjadi tempat penghimpunan sekaligus penyaluran dana zakat, dimana dana zakat selanjutnya dibagikan kepada yatim piatu dan fakir miskin yang tinggal di sekeliling masjid.

Sedangkan untuk fungsi sosial kemasyarakatan, masjid menjadi sentra kegiatan masyarakat, semisal tempat pendidikan, perkumpulan umat Islam, dan berputarnya roda ekonomi. Di samping itu, masjid juga dilengkapi berbagai fasilitas layanan untuk umum, seperti klinik dan perpustakaan. Muara dari semua itu tentu saja dalam upaya memakmurkan masjid dan membangun kekuatan umat Islam dalam berbagai sektor kehidupan, utamanya perekonomian.

Namun, fungsi masjid sebagai pusat kehidupan komunitas muslim belakangan ini gaungnya kurang terdengar lagi. Bahkan seolah umat Islam sudah mulai melupakan masjid. Akibatnya, lambat laun masjid jadi sepi dan keberkahannya hilang begitu saja. Sebagai lembaga amil zakat yang dipercaya para muzakki untuk menghimpun dan mendistribusikan dana zakat, tentu Dompet Dhuafa (DD) tak mau diam begitu saja melihat kenyataan tersebut.

DD pun telah mencanangkan program pemberdayaan umat berbasis masjid, karena DD percaya masjid dapat memainkan fungsinya sebagai salah satu pilar kebangkitan umat Islam. Dalam hal ini, DD tak sekadar menghidupkan dan merawat kembali masjid dengan menggiatkan berbagai aktivitas keagamaan, namun juga memberdayakan kaum dhuafa yang berada di sekitar masjid. Pemberdayaan itu tentu saja menggunakan dana zakat yang Anda titipkan kepada DD. (LHZ)

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s