Peduli Guru

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Dahulu masyarakat memaknai guru dengan kepanjangan digugu dan ditiru. Digugu artinya guru patut dipercayai, diakui, dan dihormati karena keilmuan dan perannya dalam masyarakat sebagai pendongkrak intelektualitas dan pembentuk sumber daya manusia yang berbudi pekerti. Sementara ditiru berarti guru layak dicontoh, diikuti, dan diteladani sebab kepribadian, perbuatan, dan tingkah lakunya terpuji yang bisa menjadi cerminan bagi orang lain. Pada titik ini, guru menjadi sosok yang sangat sakral.

Lambat laun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh berbagai hal, kini image guru menurun drastis. Ada degradasi nilai, peran, dan fungsi guru. Imbasnya, murid di sekolah dan masyarakat umum seakan enggan menghargai dan menghormati guru. Di sisi lain, guru tak lagi menjadi profesi yang terlalu diminati generasi muda atau para orang tua, seperti era sebelumnya. Bahkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang dulu begitu melekat pun kini bukan lagi kebanggaan bagi guru. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatikan banyak pihak.

Harus diakui, guru merupakan salah satu pilar penting bagi keberhasilan anak didik di sekolah dan turut menentukan wajah pendidikan masa depan suatu bangsa. Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu di jalur pendidikan formal, yang dimulai dari tingkat dasar hingga menengah. Tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik secara profesional. Tentu ini bukan tanggung jawab yang ringan.

Keberhasilan lembaga pendidikan (sekolah) memang sangat ditentukan oleh peranan strategis guru sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswanya. KBM akan berjalan efektif apabila tersedia guru yang sesuai kebutuhan sekolah, baik secara jumlah, kualifikasi maupun bidang keahliannya. Sayangnya, di negeri ini masih banyak guru yang masih di bawah standar dalam hal kualitas mengajarnya. Realita tersebut diperparah rendahnya moralitas guru, yang berujung menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.

Atas dasar itu, Dompet Dhuafa (DD) membuat program khusus dalam upaya pengembangan kapasitas guru dan peningkatan sekolah melalui Makmal Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani (LPI). Bentuk kegiatannya antara lain pelatihan guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru yang akan berdampak positif pada pengelolaan pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas hasil belajar siswa. Makmal Pendidikan juga memberikan pendampingan bagi para guru melalui kegiatan workshop untuk mengasah terus berbagai jenis keterampilannya.

Selain itu, institusi jejaring milik DD ini melakukan pendampingan bagi sekolah-sekolah yang memiliki potensi berkembang dan bisa dijadikan model. Tentu saja, kepedulian DD terhadap para guru semata demi mendukung peningkatan kualitas pendidikan di tanah air. Langkah ini juga bagian dari upaya mengembalikan makna guru sebagai pihak yang patut digugu dan ditiru. Lebih dari itu, program ini terlaksana dan terus berkesinambungan berkat dana zakat yang Anda donasikan. (LHZ)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s