Yohana Susilowati; “Berkah Sedekah Sepeda Motor”

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Jalan hidup manusia tak ada yang dapat menerka. Kehidupan yang semula bahagia, dalam sekejap bisa berubah petaka. Rumah tangga yang awalnya motorrukun, dalam hitungan waktu bisa berantakan akibat dihempas badai yang meruntuhkan pondasi dan kekuatan cinta. Itulah keadaan yang dialami Yohana Susilowati (35).

Setelah berumah tangga selama lima tahun, Yohana ‘terpaksa’ bercerai dengan suaminya. Entah persoalan krusial apa yang menyebabkan keduanya berpisah. Yohana enggan menceritakannnya. Yang jelas, wanita yang masuk Islam pada usia 17 tahun itu tidak sampai frustasi, apalagi ingin bunuh diri. Ia sadar, setiap persoalan pasti ada hikmahnya.

Kepergian suami dari hiruk pikuk hari-harinya, membuat Yohana dipaksa berpikir lebih keras lagi. Apalagi saat itu Yohana punya hutang yang tidak sedikit. Ia harus mencari cara sekaligus mampu untuk menghidupi dirinya sendiri, terutama membiayai Hero, putra semata wayangnya (sekadar catatan, Juli 2009, usia Hero 11 tahun). Beberapa hari Yohana terus memutar otak. Akhirnya ia menemukan jalan keluar, yang saat itu menurutnya terbaik.

“Saya memilih hijrah (pindah) dari Semarang ke Jakarta. Padahal, saya sendiri tidak tahu nanti di Jakarta mau kerja apa. Saya nekad saja dibarengi keyakinan hati bahwa Allah SWT akan menolong saya. Sebetulnya di Jakarta ada beberapa saudara saya. Tapi saya tidak ingin merepotkan mereka. Saya ingin mandiri dan saya yakin bisa,” tukas Yohana, mantap.

Tahun 2006, Yohana menginjakkan kaki di tanah Ibukota. Anaknya turut serta. Sebuah sepeda motor dipaketkan dari Semarang. Yohana hanya membawa beberapa barang dan peralatan untuk memenuhi kebutuhannya di tempat baru. Sementara barang-barang lainnya, diberikan secara uma-cuma kepada saudara-saudaranya di Semarang.

Nahasnya, belum lama tinggal di Jakarta dan belum mendapat pekerjaan, Yohana malah jatuh sakit. Ia sampai dirawat selama sebulan di sebuah rumah sakit akibat terkena penyakit sinusitis akut. Tentu biaya yang dikeluarkan tergolong besar. 

“Saya tak habis pikir, kenapa permasalahan hidup saya bertumpuk-tumpuk dalam rentang waktu yang tidak lama. Saya menghela napas seraya membatin, ya Allah, kalau memang semua cobaan ini dari Engkau, maka saya ikhlas menerimanya,” cerita Yohana.

Selepas penyakit yang menyerangnya pergi, Yohana membuat dua surat lamaran kerja. Keduanya ditujukan ke perusahaan properti ternama. Bersamaan dengan itu, ia menyempatkan diri jalan-jalan ke toko buku. Sebuah buku karya Ustad Yusuf Mansur dibelinya.

“Buku tentang sedekah itu saya baca, lalu saya pahami, terus saya praktekkan.  Sejak itulah saya berusaha sedekah secara rutin, sesuai kemampuan saya. Sebetulnya –sebelumnya saya mohon maaf bukan ingin bermaksud riya (pamer)—, kebiasaan sedekah sudah saya lakukan sejak kecil. Hanya saja, ketika itu saya tidak tahu manfaat besar atau keajaiban sedekah,” ujarnya.

Beberapa hari berikutnya, secara tak terduga, Yohana mendapat panggilan kerja secara bersamaan dari dua perusahaan properti yang dikirimi surat lamaran. 

Alhamdulillah…Belum ada kepastian diterima atau tidak, saya sudah  mengucapkan kata syukur. Apalagi jika nanti sampai diterima, saya tentu bahagia sekali,” pikirnya, kala itu.

Rupanya Dewi Fortuna berpihak pada Yohana. Dua perusahaan properti itu sama-sama mau menerimanya sebagai karyawan. Rasanya Yohana tidak mungkin mengambil keduanya. Ia pun lebih memilih satu perusahaan yang menempatkannya langsung ke posisi asisten manajer. Setelah bekerja, kebiasaan sedekah tidak pernah ditinggalkannya.

Tidak lama berselang, cobaan kembali mendera Yohana. Anak kesayangannya masuk rumah sakit. Setiap hari, Yohana harus merogoh kocek Rp. 500.000 untuk membeli obat anti biotik. Lucunya, Yohana tidak mau membayarnya. Alasannya, ia yakin akan ada orang yang mau membayar atau melunasi tanggungannya di rumah sakit. Benar saja dugaan Yohana, begitu anaknya dinyatakan sembuh dan boleh pulang,  pihak rumah sakit sama sekali tidak menagih tunggakan pembayaran.

“Ajiiiib, saya sampai geleng-geleng kepala. Saya sendiri tidak tahu siapa yang telah menolong saya. Alhamdulillah…,” ucapnya.

Suatu hari, Yohana mendapat kesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan Ustad Yusuf Mansur. Ia mengatakan akan mensedekahkan sepeda motornya, karena ingin punya mobil. Sang ustad menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Namun, saudara-saudara Yohana justru ada yang menentang rencananya itu. Sebab, sepeda motor itu biasa digunakan sehari-hari oleh Yohana untuk keperluan kerja. Yohana tetap dengan keputusannya.

Alhasil, ketika berkunjung ke PPPA Wisatahati saban Sabtu dan Minggu untuk mengikuti pengajian, Yohana naik ojek atau mobil angkot. Ia ridha dengan kondisi tersebut. Selain itu, kedekatannya dengan para pengurus PPPA, membuat Yohana diminta untuk mengabdi di PPPA. Kurang lebih setahun Yohana bekerja di sana. Ia membantu melayani orang-orang yang ingin bersedekah.

Dua tahun kemudian, Yohana mendapat anugerah luar biasa. Ia memperoleh hadiah sebuah mobil seiring dengan jabatan barunya sebagai manajer properti di perusahaan tempatnya bekerja. 

Alhamdulillah…Kalau Allah SWT sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Kata ustad, istilahnya kun fayakuun. Sekarang, jika disaku saya ada uang 5 rupiah sekalipun, langsung saya sedekahkan. Selain sedekah, ibadah lainnya yang saya kerjakan ialah Shalat Dhuha dan senang silaturahim. Saya percaya, jika kita sudah berani menggantungkan hidup ini hanya kepada Allah SWT, maka Allah tidak mungkin menelantarkan kita,” pungkasnya. (Tulisan testimoni tentang Keajaiban Sedekah ini merupakan hasil kerjasama dengan PPPA Wisatahati pimpinan Ustad Yusuf Mansur)

About these ads

4 pemikiran pada “Yohana Susilowati; “Berkah Sedekah Sepeda Motor”

  1. Ahh..ini bagus sekali bisa dijadikan cohtoh
    coba ada lebih banyak orang yg seperti Mbakyu Yohana ini pasti semua akan lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s