23
Feb
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompe Dhuafa, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Pemberdayaan Pesantren, Pesantren. 1 Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Sepanjang Ramadhan, berbagai media massa –utamanya televisi— serentak menayangkan program khusus yang berisi seluk beluk kehidupan pondok pesantren. Satu per satu pesantren yang memiliki ciri khas tertentu dikupas, mulai dari sejarah, kiprah, infrastruktur hingga eksistensinya saat ini. Biasanya, acara semacam ini bertujuan untuk menyemarakan Ramadhan sekaligus meningkatkan syiar Islam.
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya asli Indonesia. Keberadaannya dimulai sejak Islam masuk ke negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Karena itu, kontribusi sosial pesantren sangat besar terhadap sejarah perjalanan bangsa Indonesia dan kemajuan Islam. Continue reading
31
Jan
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompet Dhuafa, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Masjid. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Di Indonesia rasanya tidak terlalu sulit menemukan masjid. Masjid tersebar dari pusat kota hingga pelosok desa. Namun, kerapkali masjid menjadi ramai pada saat tertentu saja. Misal Ramadhan seperti saat ini, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, atau moment lain yang berkaitan perayaan hari besar Islam. Artinya, masjid masih dipahami sebagai tempat ibadah semata. Bahkan tren kekinian memperlihatkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang menganggap masjid tak lebih sebagai kawasan wisata. Continue reading
31
Jan
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompet Dhuafa, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Nelayan. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Indonesia adalah negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada pada batas dua samudera. Pulau besar dan pulau kecil yang terbentang jumlahnya lebih kurang 18.000 pulau. Sekitar 6.000 di antaranya merupakan pulau berpenduduk, sementara sisanya masih pulau kosong yang belum ditempati, bahkan belum diberi nama. Continue reading
31
Jan
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompet Dhuafa, Lembaga Pertanian Sehat, LHZ, LPS, Lukman Hakim Zuhdi, Mega Biodiversity, Petani. 1 Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Para pendahulu negeri ini telah memproklamirkan bahwa Indonesia sebagai negara agraris dan menjadikan lahan pertanian sebagai tulang punggung kehidupan masyarakatnya. Mereka tahu, Indonesia adalah salah satu negara Mega Biodiversity dan memiliki sekitar 60 persen dari dua juta spesies tumbuhan di dunia. Mega Biodiversity artinya kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumber daya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah. Continue reading
8
Des
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompet Dhuafa, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Mustahik, Zakat. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Pada masa Rasulullah SAW, setiap umat Islam yang dianugerahi kelebihan harta oleh Allah SWT diperintah untuk memberikan sedekah. Pemberian sedekah sifatnya bebas, sukarela, dan tidak wajib. Selang beberapa waktu, ada perintah lagi dari Al-Quran yang berisi kewajiban berzakat bagi orang kaya. Tujuan zakat, seperti disabdakan Rasulullah, salah satunya untuk meringankan beban kehidupan orang-orang fakir dan miskin.
Umat Islam yang hidup berkecukupan dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu mau memberikan sedekah dan menunaikan zakat. Tanpa disangka, lambat laun dana yang terkumpul dari sedekah dan zakat cukup banyak. Hal itu membuat orang-orang yang serakah dan gila harta tidak dapat menahan hawa nafsu ketika melihat tumpukan harta. Mereka sangat tergoda untuk mengambil dan memilikinya. Continue reading
7
Des
Oleh komunitasamam pada perjalanan. Ditandai:Bacukiki, Benteng, Daeng Matanre Tumapa’risi’ Kallonna, Daeng Rusle, Gowa, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Makassar, Muhammad Ruslailang, Sawitto, Siang, Somba Opu, Sultan Alauddin, Suppa, Tunipallangga. Tinggalkan sebuah Komentar
Somba Opu mulai dibangun oleh Daeng Matanre Tumapa’risi’ Kallonna, Somba Gowa pada awal abad ke-16 (salah satu sumber menyebutnya dibangun tahun 1525). Benteng itu dibangun Daeng Matanre untuk membuat inovasi yang kelak mengubah nasib Gowa hingga ke tingkat yang tidak pernah ia bayangkan. Ia mengubah kerajaannya dari sebuah federasi kecil di pedalaman menjadi sebuah kekuatan dagang, dan pembangunan Somba Opu adalah salah satu tonggaknya. Perdagangan pun merebak. Para arkeologis menemukan bahwa keramik-keramik dari Cina, Vietnam dan Thailand, sudah tiba di benteng itu pada masa itu. Continue reading
4
Des
Oleh komunitasamam pada wawancara. Ditandai:Badan Narkotika Nasional, Bio-Metric, BNN, Jaringan Narkoba di Indonesia, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Narkoba, SIN, Single Identify Number, Tommy Sagiman. Tinggalkan sebuah Komentar
Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia hingga kini tetap berlangsung, bahkan semakin menunjukan peningkatan. Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Tommy Sagiman mengungkapkan, kasus-kasus penyelundupan heroin, kokain dan psikotropika yang masuk ke Indonesia menggunakan modus operandi yang beragam.
Misalnya narkoba dimasukan ke dalam pipa gantole, papan selancar, body pack, koper, water filter, swallow, mainan anak-anak (toys), makanan, bahkan dimasukan ke dalam alat vital tubuh wanita. Menurut Tommy, untungnya para penyelundup sudah banyak yang ditangkap di bandara-bandara maupun pelabuhan-pelabuhan. Continue reading
1
Des
Oleh komunitasamam pada berita ekbis. Ditandai:CSR, Fauzi Bowo, INDEF, Institute for Development of Economic and Finance, KEN, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, MDG's, Newmont. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar No 4 di dunia, Indonesia diincar banyak negara. Menurut ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Aviliani , negara-negara luar sangat berkepentingan terhadap penduduk Indonesia, terutama mengincar generasi-generasi mudanya yang memiliki skill tertentu yang berorientasi jangka panjang.
“Misalnya Singapura, Jepang dan Amerika, saat ini berlomba-lomba mencari dan merekrut generasi muda Indonesia yang potensial untuk mereka didik dengan biaya negara. Kalau ini tidak segera disadari oleh pemerintah kita, maka kita tidak punya generasi penerus yang hebat. Implikasinya, posisi Indonesia ke depan akan sulit,” kata Aviliani, saat berbicara tentang hubungan sektor riil dengan MDG’s dalam seminar internasional NGO’s, beberapa waktu lalu di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Continue reading
1
Des
Oleh komunitasamam pada kisah nyata. Ditandai:Dompet Dhuafa, Gapoktan, Layanan Kesehatan Cuma-cuma, Lembaga Pertanian Sehat, LHZ, LPS, Lukman Hakim Zuhdi, Sugandi. Tinggalkan sebuah Komentar
Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Sugandi (62), itulah nama lengkapnya. Warga Kampung Muara Jaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, itu punya masa lalu yang indah. Dulu, sebelum tahun 1985, ia dikenal sebagai pembuat layang-layang yang hebat.
Dalam seminggu, Sugandi yang dibantu keluarganya dapat memproduksi sekitar 2.000 buah layang-layang. Hasil kreasi tangannya itu diminati banyak orang, utamanya warga Jakarta. Bahkan nama Sugandi terdengar hingga negeri Singapura dan Belanda berkat layang-layang.
”Ada beberapa turis yang sering datang ke rumah saya untuk pesan layang-layang,” tandas Sugandi.
Para pecinta layang-layang dari berbagai daerah –antara lain Jakarta, Depok, Bogor, Sukabumi, dan Kalimantan—kerap datang ke rumah Sugandi untuk berguru. Tak perlu heran bila dalam sebulan –ketika tahun 1970-an—, Sugandi bisa mengantongi penghasilan hingga 2 juta rupiah dari usaha layang-layang. Continue reading
1
Des
Oleh komunitasamam pada kisah nyata. Ditandai:Dompet Dhuafa, Gapoktan, Iwan Ridwan, Lembaga Pertanian Sehat, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi. 1 Komentar
Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Iwan Ridwan (43) bukan warga kelahiran Kampung Selaawi, Desa Cibalung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Bapaknya berasal dari Kalimantan, sementara ibunya dari Bogor. Sejak kecil hingga dewasa, Iwan merantau ke Jakarta bersama orang tuanya.
“Biasa, kayak orang-orang, mo ngadu nasib,” cetus Iwan.
Di Jakarta, Iwan beberapa kali ganti profesi. Penjual keliling kantong kresek di pasar, kuli, kondektur, montir, sopir angkot, dan nelayan pernah dijalaninya.
“Terakhir saya jadi sopir taksi. Karena di-PHK, saya memutuskan pulang ke rumah istri, Siti Maemunah (39), di Kampung Selaawi. Toh selama saya di Jakarta, perubahan nasib yang diinginkan tak kunjung terwujud,” ujarnya. Continue reading
30
Nov
Oleh komunitasamam pada perjalanan. Ditandai:LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Pulau Nias, Ya'ahowu. 1 Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Nusa Indah Andalan Sumatera, Negeri Impian Aman Sentosa. Itulah jargon Nias. Percayalah, ada banyak hal yang bisa Anda dapatkan jika mau berkunjung ke Nias.
Ya’ahowu! Kalimat itu selalu diucapkan diawal ketika sesama orang Nias berjumpa, dimana pun. Bahkan saat kali pertama Anda mendarat di Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli, Nias, ucapan salam ini langsung terdengar. Luar biasa memang. Ya’ahowu seperti doa. Masyarakat di sana sudah biasa dan fasih melafalkannya. Ya’ahowu artinya semoga (Anda) senantiasa selamat, lembut, segar, terus tumbuh, dan berkembang layaknya tanaman yang bermanfaat. Itulah sapaan khas daerah Nias.
Nias adalah sebuah pulau yang berada di Lautan Hindia. Letaknya 125 kilometer sebelah Barat Pulau Sumatera dan merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Luas wilayahnya sekira 5.318 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk kurang lebih 800.000 jiwa. Mayoritas penghuninya suku Nias (Ono Niha) yang beragama Kristen Protestan. Saat ini, Nias telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunung Sitoli. Continue reading
30
Nov
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompet Dhuafa, Guru, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Dahulu masyarakat memaknai guru dengan kepanjangan digugu dan ditiru. Digugu artinya guru patut dipercayai, diakui, dan dihormati karena keilmuan dan perannya dalam masyarakat sebagai pendongkrak intelektualitas dan pembentuk sumber daya manusia yang berbudi pekerti. Sementara ditiru berarti guru layak dicontoh, diikuti, dan diteladani sebab kepribadian, perbuatan, dan tingkah lakunya terpuji yang bisa menjadi cerminan bagi orang lain. Pada titik ini, guru menjadi sosok yang sangat sakral.
Lambat laun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh berbagai hal, kini image guru menurun drastis. Ada degradasi nilai, peran, dan fungsi guru. Imbasnya, murid di sekolah dan masyarakat umum seakan enggan menghargai dan menghormati guru. Di sisi lain, guru tak lagi menjadi profesi yang terlalu diminati generasi muda atau para orang tua, seperti era sebelumnya. Bahkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang dulu begitu melekat pun kini bukan lagi kebanggaan bagi guru. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatikan banyak pihak. Continue reading
30
Nov
Oleh komunitasamam pada gagasan. Ditandai:Dompet Dhuafa, Institut Kemandirian, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, P2E LIPI, Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Tuna Karya. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) memerkirakan, angka pengangguran terbuka turun 0,71 persen atau sebesar 71 ribu orang dari 8,96 juta jiwa pada 2009 menjadi 8,89 juta orang pada 2010. Penurunan tersebut dilandasi pertumbuhan ekonomi 2010 yang diprediksi meningkat sebesar 5,9 persen. Tentu kabar ini patut disambut positif bila memang menjadi kenyataan.
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Munculnya tuna karya disebabkan banyak faktor. Namun yang paling dominan lantaran jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Continue reading
30
Nov
Oleh komunitasamam pada wawancara. Ditandai:Eurico Guterres, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Timor Timur, Untas. 1 Komentar
Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Eurico Barros Gomes Guterres, itulah nama lengkapnya. Pria kelahiran Uatulari, Timor Timur, 17 Juli 1971 ini lebih dikenal
dengan nama beken Eurico Guterres. Ia seorang milisi pro-Indonesia atau anti-kemerdekaan Timor Timur. Namun, ia dituduh terlibat dalam sejumlah pembantaian di Timor Timur. Selain itu, Guterres merupakan pemimpin milisi utama pada pembantaian pasca referendum tahun 1999 dan penghancuran ibu kota Dili.
Pada November 2002, Guterres dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Putusan ini kemudian dikuatkan hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Ia baru mulai dipenjarakan pada tahun 2006 setelah gagal dalam upaya banding yang diajukan. Ia harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta. Pada April 2008, Guterres yang mengajukan peninjauan kembali (PK), dibebaskan dari segala tuduhan melalui keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan telah menemukan “bukti baru” bahwa ia tidak terlibat apapun. Continue reading
30
Nov
Oleh komunitasamam pada tokoh islam. Ditandai:Abu Hafs, Al-Hajjaj bin Yusuf, LHZ, Lukman Hakim Zuhdi, Umar bin Abdul Aziz. Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis Lukman Hakim Zuhdi
Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah yang sangat dicintai fakir miskin, anak yatim, janda-janda tua, para lajang, dan masyarakat umum.
Umar bin Abdul Aziz lahir di Kampung Hulwan, Mesir, tahun 63 H/681 M. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, menjabat Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul Malik. Ibunya, Ummu Asim Laila binti Asim, merupakan cucu Khalifah Umar bin Khattab. Umar hidup dalam lingkungan yang serba cukup dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, kegemarannya menuntut ilmu. Ia dibesarkan di bawah bimbingan Ibnu Umar, ulama yang banyak meriwayatkan hadis.
Setelah ayahnya wafat, Umar menikah dengan Fatimah, putri Khalifah Abdul Malik. Selang beberapa waktu, ayah mertuanya wafat dan kekhalifahan dilanjutkan oleh Khalifah Al-Walid I. Umar kemudian diangkat sebagai Gubernur Madinah dalam usia 24 tahun. Umar membentuk sebuah dewan untuk membantunya menjalankan pemerintahan provinsi. Sejak itu, keluhan-keluhan resmi ke Damaskus (pusat kekuasaan Islam) berkurang. Continue reading
Komentar Terakhir