Siti Zubaidah: Bangkit Dari Kandang Kambing

Oktober 31, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Suatu hari, Zubaidah (34) diusir dari kontrakan lantaran tak sanggup membayar uang sewa. Ia bingung, isi dompetnya kosong. Seorang

Siti Zubaidah

Siti Zubaidah

temannya lalu menawarkan tempat gratis. Wajah Zubaidah yang semula ceria seketika mengkerut.

Kok tega banget, yah. Masa saya suruh tinggal di kandang kambing yang lama tak terpakai. Di sekelilingnya banyak pohon pisang dan kelapa. Setelah dipikir, daripada anak-anak (Aida, Ali, Sholihah, dan Solahudin) tidur di pinggir jalan atau kolong jembatan, masih mending di sini,” Zubaidah mengelus dada.

Zubaidah mengangkut barang-barang pindahannya sendirian. Kebetulan saat itu bertepatan dengan keberangkatan Nurdin (35), suaminya, ke Kalimantan. Begitu pun saat membersihkan kandang yang kotor dan bau, ia mengerjakan sendiri. Tangannya cekatan membuang sarang laba-laba.

Baca entri selengkapnya »


Catu: Bertahan Dengan Temulawak

Oktober 31, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Nama asli Catu (54), tanpa imbuhan nama depan atau belakangnya. Dulu, orang tuanya berharap, dengan pemberian nama yang mudah diingat dan

Catu

Catu

dilafalkan itu, perjalanan hidup anaknya akan selalu dinaungi kemujuran.

“Kata orang tua saya, catu artinya untung,” kata Catu, pemilik usaha minuman sehat tradisional Cap Putri Kencana yang memproduksi temulawak dan jamu sari akar.

Nyatanya benar. Saat ini Catu termasuk orang yang beruntung. Ia masih bisa mempertahankan usahanya, meski harus jatuh bangun. Catu menuturkan, sebelum 2005, usaha temulawak menjamur dimana-dimana. Di Jabodetabek, kurang lebih ada 115 pabrik temulawak. Rata-rata pemiliknya menangguk untung besar, sukses.

Baca entri selengkapnya »


Asbun Alfiali: Dunia Abun Dunia Anak-anak

Oktober 31, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pedagang itu tidak boleh marah, begitu pesan Asbun Alfiali (42). Asbun tak asal ucap. Pria yang karib disapa Abun itu punya dasarnya, termasuk

Asbun Alfiali

Asbun Alfiali

berangkat dari pengalaman pribadinya sewaktu jual es kueh.

Begini ceritanya. Hari itu Abun dagang es kueh di sebelah gerbang sekolah. Beberapa menit setelah bel istirahat dibunyikan, puluhan siswa siswi kontan berhamburan menyerbu dagangan Abun. Abun melayani satu persatu pembelinya.

Usai murid-murid meninggalkan gerobak es Abun, Abun melihat seorang siswa duduk menyendiri. Siswa itu tak membeli es kuehnya. Abun menduganya sedang tak memiliki uang jajan. Spontan Abun menghampirinya seraya memberikan sebuah es kueh gratis. Bocah itu menerimanya dengan senang hati.

Baca entri selengkapnya »


Surana: “Sampahmu Jadi Tumpuan Hidup Saya”

Oktober 30, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Siapa sangka, seorang tukang sampah bernama Surana (64), dapat menyekolahkan dua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Di usia yang

Surana

Surana

seharusnya pensiun dan menikmati hidup, ia justru masih berjikabu dengan bau sampah.

“Kalau saya berhenti kerja, emang orang lain mau ngasih makan keluarga saya, heh?!,” katanya dengan suara meninggi.

Tiap pagi, Surana menarik gerobak sampah berukuran sedang yang sudah reot. Jalannya pelan-pelan. Ia menyambangi setiap rumah di lingkungan RT 006 Pondok Karya, Tangerang, Banten. Sampah yang dimasukan gerobak tak terlalu banyak.

“Takut bagian bawah gerobaknya jebol. Maklum, gerobak ini usianya hampir seperempat dari usia saya,” Surana terkekeh.

Baca entri selengkapnya »


Tangis Farda Tak Kunjung Berhenti

Oktober 30, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Awal 2007. Bambang, suami Farda, masuk Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia menderita talasemia dan komplikasi.

Farda

Farda

Perut membesar, mata dan sekujur badan kuning, serta muntah darah. Talasemia merupakan penyakit kelainan darah yang ditandai dengan berkurang atau ketiadaan produksi dari hemoglobin normal.

Dulu, Bambang bekerja di perusahaan minuman berenergi. Namun, semenjak ginjal kanannya rusak, ia total menganggur. Farda kemudian yang menggantikannya mencari nafkah. Sisa maskawin 3 gram emas dijual untuk modal usaha. Farda jualan baju dan underwear wanita, keliling kampung.

Sejak Bambang dirawat, Farda tak lagi jualan. Ia lebih sering menemani suaminya. Kalau pun Farda pulang ke rumah, paling-paling untuk memastikan keempat anaknya; Rizki Apriliansah (15), Rizka Amelia (12), Rizqullah Akmal (8), dan Risma Azzahra (5), tidak kelaparan.

Baca entri selengkapnya »


Asep Hermawan: Pelopor Pembuat Pupuk Organik di Kampung Bojong Menteng

Oktober 26, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Setelah tidak bisa masuk perguruan tinggi lantaran kendala biaya, Asep Hermawan (35) memilih mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Asep Hermawan

Asep Hermawan

“Honor saya lima ribu rupiah sebulan. Itu pun diberinya setahun sekali (dirapel),” ujarnya santai.

Penghasilan minim sebagai guru honorer tak menyurutkan niat Asep menyunting Heni Suhaeni (27). Asep bersama istrinya hidup seirit mungkin, sesuai pendapatan bulanannya. Kebutuhan yang dirasa tidak penting, dicoret dari daftar belanjaan.

Setahun berlalu. Asep dan istrinya dikarunia bayi perempuan (Fitriyah). Kehadiran putri pertamanya jelas mendongkrak pengeluaran. Asep putar otak. Setelah pagi hari mengajar di MI, siangnya mengajar di MTs dan MA. Selain itu, ia bergabung dengan Kelompok Tani Unggul untuk belajar bercocok tanam.

Baca entri selengkapnya »


Juwita Menangis Lantaran Kesakitan… (Kisah Ibu Tiri yang Baik Hati)

Oktober 14, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Malang benar nasib Juwita (2). Proses kelahirannya yang dibantu paraji,

Ipah Menggendong Juwita

Ipah Menggendong Juwita

memang normal tanpa masalah. Hanya saja, dua minggu setelah lahir, orang tuanya baru mengetahui kalau kondisi bocah itu tidak punya anus (ilmu kedokteran menyebutnya atresia ani).

Orang tua mana yang tidak sedih melihat buah hatinya setiap buang air besar (BAB) harus melalui saluran vagina. Yang lebih menyedihkan, Juwita ditinggal pergi begitu saja oleh ibunya. Sang ibu rupanya tidak terima dengan keadaan Juwita.

“Istri saya tiba-tiba minta cerai gara-gara Juwita sakit begitu. Saya makin pusing saja!” keluh Juli Saputra (30), ayah Juwita.

Baca entri selengkapnya »


Zakaria: ”Tolong Jangan Jauhi Saya…”

Oktober 14, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Gara-gara dicakar tikus kecil, wajah Zakaria (46) rusak tak karuan. Jaja –

Zakaria

Zakaria

panggilan Zakaria—tak menyangka jika kini mata, pipi, hidung, gigi, dan bibirnya hilang. Bola mata kanannya telah diambil. Lubang tempat matanya ditutup rapat dengan kulit daging perut.

Saat berumur 6 tahun, dipipi kiri Jaja tiba-tiba muncul benjolan agak tipis berwarna merah. Ia sering menggaruknya. Rasa gatal tak henti-henti mengusik. Dari waktu ke waktu benjolan itu terus membesar, bahkan beratnya mencapai 2,5 kilogram.

“Saya sampai tak bisa berjalan,” keluh Jaja.

Baca entri selengkapnya »


Umiyati: Tak Mau Menyerah Pada Keadaan

Oktober 10, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

HISTERIS BERANDAL. Tulisan itu tertera jelas di dinding anyaman bambu tanpa cat tempat tinggal Umiyati (60). Mak U’um –begitu para tetangga biasa

Umiyati

Umiyati

memanggil Umiyati—bukanlah berandal, pengemis atau gelandangan. Perempuan asal Garut, Jawa Barat, itu hanya potret rakyat kecil yang tengah berjuang menghadapi kerasnya hidup. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak mau menyerah begitu saja pada keadaan yang terus menghimpitnya.

“Batin Mak menangis histeris bukan lantaran menyesali beban hidup yang semakin berat ini. Tapi Mak bersyukur hingga hari ini Allah SWT masih sayang kepada Mak dan keluarga Mak,” kedua bola mata Mak U’um berkaca-kaca.

Yah, Mak U’um merasa pantas berbahagia. Menurutnya, banyak sekali nikmat dari Allah SWT yang telah dirasakannya. Misal, kedua mata Mak U’um yang lima tahun lalu terkena sabun cuci, hingga kini masih bisa secara jelas untuk melihat deretan huruf hijaiyah di dalam Al-Quran. Setiap hari ia mengaji Al-Quran tanpa memakai kacamata. Padahal, kata Mak U’um, bila berjalan tanpa mengenakan kacamata, ia seperti orang mabuk. Jalannya sempoyongan, karena padangan matanya kurang terang.

Baca entri selengkapnya »


Natirah Ratnasari: Bertahan Hidup Dengan Caranya Sendiri

Oktober 10, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Masih terekam jelas kejadian empat tahun lalu dalam memori Natirah Ratnasari (40). Ketika itu, tanpa ada angin puting beliung atau

Natirah Ratnasari

Natirah Ratnasari

hujan badai, tiba-tiba saja Natirah ditinggal suaminya (dicerai). Menurut kabar yang diterima Natirah, suaminya menikah lagi dengan perempuan lain, yang usianya lebih muda. Kontan saja hati Natirah remuk. Ia berkali-kali protes, tapi tak pernah ditanggapi. Alhasil, perasaan campur aduk itu dipendam saja. Yang jelas, apapun alasan perceraian yang dikemukakan suaminya, bagi Natirah denyut kehidupan tak boleh berhenti.

“Dibilang sedih, ya saya sedih dan kaget. Wajar, namanya juga manusia…Tapi untuk apa saya larut dalam kesedihan itu? Toh hidup ini sudah ada yang mengatur, kan. Saya tinggal mencari hikmahnya,” Natirah beralasan, mencoba tegar.

Baca entri selengkapnya »


Awaluddin; Balasannya Bukan Cuma Dua Kali Lipat

September 14, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kisah ini bermula pada Januari 2007. Saat itu Awaluddin (kini berusia 38 tahun) melamar kerja di sebuah perusahaan ternama. Berbekal kepercayaan diri dan berkas-berkas yang disusun rapi di dalam map, ia menemui bagian personalia (HRD). Tanpa disangka, kepala personalia di perusahaan itu teman sekolahnya ketika SMP. Awaluddin kaget tak menyangka seorang sahabatnya bisa menduduki posisi penting.

“Saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata itu teman saya. Untungnya saya dan dia masih sama-sama ingat. Akhirnya kami ngobrol ngalor-ngidul. Saya berkata dalam hati, saya pasti diterima kerja di tempat ini. Tapi, teman saya itu sepertinya bisa membaca hati saya. Dia buru-buru memberi tahu kalau untuk saat ini tidak ada lowongan pekerjaan. Saya langsung lemas, meski tak sampai kehilangan semangat,” cerita Awaluddin.

Baca entri selengkapnya »


Riri Yandipinta; Tak Perlu Ragu Ketika Bersedekah

September 14, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Segala sesuatu pasti ada waktunya. Biar pun kita berkali-kali meminta kepada Allah SWT agar setiap hajat (kebutuhan) kita dikabulkan, namun jika belum saatnya tiba, maka kita tidak bisa mendapatkannya. Yang jelas, kita tidak mungkin memaksa Allah SWT untuk menuruti kemauan-kemauan kita.

Hal tersebut yang sangat disadari betul oleh Riri Yandipinta (28). Wanita kelahiran Padang yang dinikahi Donal Setiawan itu tidak terlalu pusing tatkala belum dipercaya oleh Allah SWT untuk menggendong momongan. Padahal, rumah tangganya sudah berjalan lima tahun.

Baca entri selengkapnya »


KH. Drs. Nasihin Abdul Gofur; “Hati-Hati Dengan Ramadhan”

September 8, 2009

Ramadhan adalah bulan penuh keajaiban. Beraneka keutamaan dan keistimewaan tersimpan di dalamnya. Antara lain, seperti dijelaskan KH. Drs. Nasihin Abdul Gofur, Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa orang H. Nasihin AG 03Islam yang beriman sekaligus menyucikan jiwa-jiwa yang kotor. Sungguh ini sesuatu yang patut disambut dan disyukuri oleh seluruh umat Rasulullah SAW, mengingat kesempatan dan momentum tersebut hanya satu kali terjadi dalam setahun.

Namun demikian, Ketua Dewan Pembina Yayasan Daarul Islah, Kunciran Indah, Tangerang, Banten, itu justru mengingatkan agar muslimin maupun muslimat berhati-hati dengan Ramadhan. Ada apa sebenarnya? Benarkah masih banyak orang yang belum mengerti dalam menghayati hakikat Ramadhan? Berikut ini petikan wawancara Lukman Hakim Zuhdi dari Anggun dengan tokoh masyarakat yang wajahnya mirip musisi sekaligus ustad (almarhum) H. Gito Rollies itu. Baca entri selengkapnya »


Fitri Barokah; Sedekah Membuat ‘Hadiah’ Semakin Meningkat

September 8, 2009

Pewawancara & penulis Lukman Hakim Zuhdi

Akhir tahun 2007 menjadi moment yang mungkin tidak bisa dilupakan oleh Fitri Barokah (30). Perempuan yang tinggal bersama keluarganya di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, itu tak menyangka akan mengalami keguguran dan pendarahan hebat. Calon janin yang dikandungnya terpaksa harus keluar pada waktu yang belum diharapkan.

“Ketika itu usia kehamilan saya sudah 8 minggu. Kalau saya tidak keguguran, itu akan menjadi anak saya yang kedua. Saya sedih sekali sampai tak mampu berkata-kata lagi akibat peristiwa itu,” kenangnya.

Baca entri selengkapnya »


dr. Eko Setiawan; Rezeki Menurun Saat Sedekah Terlupakan

September 6, 2009

Pewawancara & penulis Lukman Hakim Zuhdi

dr. Eko Setiawan (29) sudah tiga tahun bekerja di Rumah Sakit Bakti Asih selaku dokter umum. Lajang kelahiran Tangerang, Banten, ini mengaku sebagai saksi hidup yang benar-benar merasakan manfaat dan keajaiban sedekah. Kisahnya bermula sejak ia mulai bekerja sebagai dokter jaga.

“Uang gajian pertama yang saya terima dari rumah sakit, saya sedekahkan sekian persen,” cetusnya, bersemangat.

Setiap bulan, Eko mengatakan pasti selalu bersedekah. Kebiasaan itu berlangsung hingga satu tahun ia bekerja. Ia menyisihkan beberapa persen, minimal 2,5 persen untuk disedekahkan kepada berbagai pihak yang berhak menerimanya. Namun, ia memberikan sedekah itu tidak hanya di satu tempat, melainkan bermacam-macam tempat. Tanpa disadari, pendapatan bulanan atau gajinya terus meningkat.

Baca entri selengkapnya »


Khadijah; Buangnya Kecil, Dapatnya Besar

September 6, 2009

Pewawancara & penulis Lukman Hakim Zuhdi

Sedekah sebagai solusi dari problematika kehidupan diyakini betul oleh Khadijah (28). Guru agama sekaligus guru TK di daerah Bekasi, Jawa Barat, itu bersedia membagi kisah-kisah  menakjubkan yang pernah dialaminya terkait keajaiban sedekah.

“Dengan saya bercerita tentang pengalaman pribadi saya, saya sama sekali tidak bermaksud untuk pamer (riya), apalagi supaya saya dipuji banyak orang. Insya Allah saya jauh dari pikiran seperti itu. Sejujurnya saya semata-mata ingin membuktikan bahwa kekuasaan Allah SWT memang benar adanya. Respon Allah lebih cepat daripada respon manusia. Selanjutnya, saya berharap, semoga para pembaca bisa termotivasi atau terinspirasi untuk rajin bersedekah,” Khadijah sekadar mengingatkan.

Baca entri selengkapnya »


Halimah; “Sedekah pun Bisa Dengan Sesuatu yang Sepele”

September 5, 2009

Pewawancara & penulis Lukman Hakim Zuhdi

Halimah (45) mengalami keajaiban berkat sedekah yang –menurutnya—  tergolong sepele. Ceritanya terjadi sebulan yang lalu. Ketika itu, ibu yang 193986_volvo_busmengasuh Yayasan Yatim Piatu ‘Amanta’ ini hendak pulang ke rumahnya di Kecamatan Cipendeuy, Bandung Barat.

“Kejadian ini tepatnya hari Minggu, setelah saya menjenguk salah seorang anak saya yang sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Ciawi, Bogor,” tutur Halimah, memulai kisahnya.

Baca entri selengkapnya »


Anotasi Tom Peters

Agustus 22, 2009

TomPeters300s

“Rumus ajaib yang ditemukan para pebisnis sukses adalah:

perlakukan konsumen sebagai tamu kehormatan

dan karyawan sebagai manusia.”

(TOM PETERS, Pakar Manajemen dan Organisasi)


Mutia Lisanty; “Hati Anak Saya Terbuka”

Agustus 13, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Mempunyai anak yang cerdas, pintar dan berprestasi dibidangnya, apalagi anak-cerdasbisa menjuarai lomba tertentu pada level dunia, tentu menjadi dambaan para orang tua. Begitu pula bagi Mutia Lisanty (40). Ibu rumah tangga itu memiliki dua buah hati yang masih duduk di bangku SMP. Putra pertamanya berusia 14 tahun, sementara putri keduanya berumur 12 tahun.

“Saya mohon maaf, nama atau identitas putra putri saya tidak perlu disebutkan, yah,” pintanya, tanpa menyebutkan alasannya.

Baca entri selengkapnya »


Warlim; Keuntungan Mengajak Orang Bersedekah

Agustus 11, 2009

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Warlim (30) tak menyangka jika jalan hidupnya akan selalu dimudahkan oleh cleaning service Allah SWT. Lelaki kelahiran Sumedang, Jawa Barat, itu kini dipercaya sebagai sekertaris direksi, setelah 9 tahun bekerja di Rumah Sakit Cinere. Karirnya bermula dari posisi cleaning service.

“Maklum, saya ini hanya lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama),” katanya sambil tersenyum.

Baca entri selengkapnya »